Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Di situlah seorang manusia yang pernah mempertaruhkan hidupnya berhadapan dengan sistem yang mengukur perjuangannya melalui ketepatan formal sebuah dokumen.
Realitas hukum yang beku ini menegaskan betapa berjaraknya institusi negara ketika harus berhadapan dengan luka sosiopolitik yang masih basah.
Para pejuang Seroja pasca-1976 kini terkatung-katung tanpa legalitas formal sebagai veteran pembela tanah air mereka sendiri.
Mereka telah menyerahkan masa muda.
Mereka telah menyerahkan keindahan fisik.
Mereka telah mempertaruhkan stabilitas jiwa bahkan kesehatan mental mereka ke dalam pelukan maut hutan Timor.
Kini mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa seluruh pengorbanan itu seolah tidak pernah ada secara hukum.
Bukan karena mereka tidak pernah berada di sana.
Bukan karena mereka tidak pernah bertempur.
Bukan karena tidak ada darah yang tertumpah.
Tetapi karena wilayah yang mereka pertahankan dengan linangan air mata dan darah pada akhirnya resmi lepas menjadi sebuah negara tetangga yang merdeka.