Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Bukankah kehilangan tetap kehilangan?
Bukankah seorang anak yang tumbuh tanpa ayah tetap membawa luka yang sama meskipun tanggal kematian ayahnya berbeda?
Pengorbanan yang tak terhitung jumlahnya dari 1977 hingga 1999 seolah diredam intensitas publikasinya dalam buku-buku pelajaran sekolah anak-anak kita.
Ia dikunci rapat dalam arsip berdebu kementerian pertahanan.
Dan pada puncaknya ditolak mentah-mentah di ruang sidang Mahkamah Konstitusi.
Seolah seluruh rangkaian operasi militer untuk mempertahankan wilayah dan pengabdian para guru sipil di sana setelah 1976 merupakan sebuah cacat sejarah kolektif.
Sesuatu yang harus segera dikubur dalam-dalam agar tidak mengganggu keharmonisan geopolitik kawasan regional.
Namun sejarah tidak selalu tunduk kepada apa yang ingin kita lupakan.
Ingatan manusia sering lebih keras kepala daripada arsip negara.
Ia hidup dalam tubuh yang pincang.
Ia hidup dalam keluarga yang kehilangan.
Ia hidup dalam foto lama yang mulai menguning.
Ia hidup dalam lagu kebangsaan yang tiba-tiba membuat seorang lelaki tua menundukkan kepala.