Nyala Asa di Bumi Flores, Prolog: Saat Bumi Flores Menangis

Reporter: win 
| Editor: redaksi
IMG_3153_copy_1008x756_copy_403x302_copy_302x226

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

Tidak jauh dari tempat kami duduk, di dalam tenda pengungsian yang panas dan hampir penuh sesak dengan perempuan dan anak anak, beberapa orang lansia duduk bersandar pada dinding posko. Mata mereka menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang mendalam. Di usia yang tak lagi muda, mereka terpaksa melewatkan malam-malam panjang di atas alas kasur tipis seadanya.

“Paling susah kalau malam hari, angin masuk ke tenda dingin sekali. Tapi saya sangat bersyukur Ibu datang bawa bantuan. Senang, ada banyak yang peduli pada nasib oma oma ini,” tutur salah satu perempuan lansia dengan senyum tipis penuh ketegaran.

Bacaan Lainnya

Suasana haru mencair ketika dari arah luar terdengar gelak tawa riang anak-anak. Sekelompok bocah pengungsi tampak berkerumun membentuk lingkaran, antusias mengikuti kegiatan pemulihan trauma yang dipandu oleh relawan. Mereka berlomba-lomba mengeja dan bernyanyi mengikuti tuntunan dan instruksi dari teman teman relawan, membuktikan bahwa bara semangat belajar di bumi Flores tidak pernah padam meski gempa telah merenggut segalanya.

Pos terkait