Soroti MBG, DPRD NTT Gelar Rapat Dengar Pendapat

Reporter: win 
| Editor: redaksi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

“Kalau sampai terjadi lagi, berarti masyarakat berfikir tidak punya wakil rakyat, karena tidak bisa bicara soal MBG. Padahal disatu sisi kita harus menyuarakan kepentingan masyarakat, yang terabaikan seperti soal-soal seperti ini,” tambah Ana Kolin.

Padahal, jelas Ana Kolin, program ini bertujuan juga untuk pemberdayaan UMKM yang ada, tapi kenyataannya bahan penunjang didatangkan dari Pulau Jawa.

Bacaan Lainnya

“Seperti ayam beku, kalau masak salah-salah hasilnya menjadi tidak maksimal. Begitu jugapara petani bisa menyiapkan beras,tapi kenyataannya vendor mendatangkan dari luar, sehingga ingin memberdayakan UMKM nya dimana?,” tanya Ana Kolin.

Oleh karena itu, lanjut Ana Kolin, seharusnya dievaluasi dan dibuat pilot project dulu, misalnya tentukan setiap sekolah hanya satu kelas, sambil menunggu timing yang tepat untuk melihat MBG seperti apa.

“Niatnya baik memberikan gizi pada anak-anak, tapi disisi lain implementasinya sangat buruk, anak-anak yang jadi korban, kita tidak mau,” ujarnya.

Bahkan saat ini masyarakat memplesetkan MBG bukan Makanan Bergizi Gratis, tapi Malapetaka Bagi Generasi.

Pos terkait