Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Kami dari PT Nataga Raihawu Industri telah diundang oleh kementerian KKP untuk mengikuti rapat terkait dengan kebijakan penghentian impor garam dan bagaimana memenuhi kebutuhan garam konsumsi dalam negeri,” ungkap Marthen.
Membangun Tambak garam di Sabu Raijua kata Marthen Dira Tome, bukan hanya soal tersedianya lapangan kerja semata, tapi ini tentang cinta pada Sabu Raijua dan rantai kehiduapan yang ada di dalamnya. Tambak garam, bukan juga hanya mimpi belaka, tapi telah menghasilkan kristal putih yang asin dan telah memberi kehidupan bagi 450 pekerja. Semakin luas tambak garam dibangun maka, semakin banyak lapangan pekerjaan tercipta. Semakin banyak orang yang hidup lewat rantai kehidupan ekonomi yang terbangun. Tidak hanya pekerja, tapi buruh bagasi, para supir dan pemilik angkutan, hingga para pedagang kaki lima di dermaga dan lokasi tambak garam
“Ini tambak garam bukan hanya tentang garam saja, tapi tambak garam ini tentang lapangan kerja dan kenikmatan lain yang bisa diterima oleh orang lain. Tambak garam itu, selain mereka mendapat upah disana, mereka juga menerima BPJS Ketenagakerjaan, kalau sakit mereka bisa berobat gratis karena sudah dijamin BPJS. Kalau mereka kecelakan maka mereka ditanggung oleh BPJS. Kalau mereka meninggal maka akan mendapatkan santunan 42 juta dan 2 orang anaknya akan ditanggung hingga selesai kuliah. Kalau sudah lelah dan ingin berhenti atau sudah tua, maka ada jaminan hari tua yang disiapkan dan juga ada tabungan pensiun. Itu semua sudah disiapkan oleh perusahaan,” pungkas Marthen Dira Tome. (*)
