Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Ketika kita tempuh kebijakan ini, banyak sekali anjing yang melolong di luar seperti sedang melihat hantu. Jadi kita tidak ada potong gaji seperti yang orang lain omong. Yang kita lakukan adalah menata cash flow perusahaan yang tidak lagi mau ditopang oleh pihak lain. Saya minta kita tetap bekerja dan ketika garam sudah laku maka kita selesaikan gaji sesuai dengan kontrak kita,” tegas Matade, sapaan akrab Marthen Dira Tome.
Marthen Dira Tome lebih jauh menjelaskan, persoalan Cash Flow yang berdampak pada gaji karyawan belum bisa dibayarkan secara utuh lantaran terputusnya rantai pasok garam dari Sabu Raijua kepada para pengusaha yang memiliki perusahaan di Pulau Jawa. Rantai itu terputus karena sejak tahun 2017 silam, garam di Sabu Raijua tidak lagi berproduksi dan memenuhi kebutuhan perusahaan yang selama beberapa waktu membeli garam dari Sabu Raijua.
“Garam yang kita punya ada puluhan ribu ton yang belum terjual sehingga menyebabkan cash flow kita tidak lancar. Kenapa garam kita belum terjual, karena para pengusaha yang dulunya membeli garam dari Sabu Raijua, telah mengalihkan pandangan ke tempat lain karena produksi garam di Sabu Raijua pada tahun 2017 terhenti dan garam terjual habis. Saat itu saya sedang bermasah hukum dengan KPK. Pengusaha yang membeli garam dari Sabu lalu melihat garam dari tempat lain untuk memenuhi kebutuhan pabrik mereka. Sabu Raijua dianggap telah gagal dalam menyediakan garam secara kontinyu untuk pemenuhan kebutuhan pabrik para pengusaha di jawa.
