Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang main gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jefry.
Jefry menekankan nilai budaya dan sejarah, tidak boleh hanya jadi cerita masa lalu. Generasi muda harus terus diperkenalkan agar tetap hidup dan relevan.
“Kita tidak mempertahankan perbedaan untuk saling menjauh. Kita merawat perbedaan agar tetap bisa hidup berdampingan dalam harmoni,” tegas Jefry.
Jeffry juga mendorong kawasan Kota Tua dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi.
“Jadikan Kota Kupang ini rumah bersama dengan saling menghargai dan merawat kebersihan,” pesan Jeffry.
Sejarah Jadi Inspirasi
Ketua Panitia, Antoni Niti Susanto menjelaskan, pemilihan Pantai Kopan bukan tanpa alasan. Kelurahan LLBK adalah saksi perjumpaan berbagai komunitas, mulai dari masyarakat Helong, Portugis, Belanda, hingga Tionghoa dan Arab.
“Melalui festival ini kami berharap dapat melestarikan budaya lokal, menarik wisatawan, serta meningkatkan pendapatan UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang,” kata Antoni.
