Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
BarometerNTT.com, Kupang – Suara Kenabian Gereja harus turun ke pergumulan rakyat, dan menjaga jarak kritis terhadap kekuasaan, tetapi tidak boleh menjaga jarak dari penderitaan mereka.
Pesan itu menjadi salah satu benang merah Webinar “Gereja dan Negara: Suara Kenabian dan Tanggung Jawab Bersama” yang diselenggarakan Persekutuan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Nusa Tenggara Timur (PASTIJA NTT), Jumat (4/9/2026).
Hadir sebagai narasumber: Pdt. Andreas A. Yewangoe, anggota Dewan Pengarah BPIP RI, Emilia J. Nomleni selaku Ketua DPRD NTT 2024–2029, dan Ketua Majelis Sinode GMIT 2024–2027, Pdt. Samuel Pandie.
Diskusi dimoderatori Tony Fanggidae, dan diikuti 78 peserta dari kalangan teolog, pendeta, mahasiswa, GAMKI, aktivis perempuan hingga politisi.
Ketua PASTIJA NTT, Pdt. Desiana Rondo Effendy, dalam pembukaan mengatakan, Dies Natalis bukan hanya perayaan usia institusi, tetapi ujian relevansi teologi di tengah persoalan masyarakat.
“Iman tidak hidup di ruang kosong. Kemiskinan, kekerasan, perdagangan orang, bencana, adalah pergumulan bersama. Gereja dan negara punya mandat berbeda, tapi berjumpa pada manusia yang sama,” kata Desiana Rondo.
