Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Langkah ini merespons kondisi NTT yang masih berada di zona merah. Data menunjukkan prevalensi stunting NTT 37,9% dan tingkat kemiskinan 17,5% per September 2025.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, melarang keras kebijakan berbasis asumsi.
“Kita tidak boleh lagi menyelesaikan persoalan berdasarkan perasaan. Semua harus didekati secara ilmiah, berbasis riset dan data akurat agar solusinya tepat sasaran,” ujar Melki Laka Lena.
Selama 2 bulan, mahasiswa akan menempati 100 desa di 13 kabupaten. Intervensi difokuskan pada digitalisasi administrasi desa, edukasi gizi preventif, validasi data bantuan sosial, dan pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal.
Melalui mobilisasi multidisiplin ini, konsorsium 41 kampus NTT menargetkan lahirnya agen perubahan di desa. Tujuannya jelas: memutus rantai kemiskinan ekstrem dan menurunkan stunting, sekaligus memposisikan perguruan tinggi sebagai penggerak utama pembangunan di Indonesia Timur. (*)
