Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Kalau ada transaksi yang janggal (fraud) berulang-ulang atau dalam jumlah besar, itu bisa dimonitor,” jelas Charlie Paulus.
Pihak Bank NTT menyadari, lanjut dia, bahwa kejahatan perbankan, khususnya kejahatan siber, terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Para pelaku kejahatan terus meningkatkan kemampuan untuk membobol sistem, sementara perbankan juga harus terus meningkatkan proteksi diri.
“Kita berharap tidak terjadi sesuatu, memang di antara pencuri dengan kami itu berlomba-lomba, pencuri menambah ilmu untuk mencuri, bank bertambah ilmu untuk memproteksi diri. Banyak bank yang kena, tapi kami bersyukur belum pernah, dan kami memperkuat sistem security,” tegasnya lagi.
Charlie Paulus menyebutkan, meski banyak bank di Indonesia yang pernah menjadi korban pembobolan, Bank NTT bersyukur hingga saat ini belum pernah mengalami kejadian serupa. Namun demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.
“24 jam transaksinya dimonitor sekarang,” pungkas Charlie Paulus.
Langkah ini sejalan dengan arahan Gubernur NTT, Melki Laka Lena, yang sebelumnya meminta jajaran Direksi Bank NTT, untuk memperketat security system agar tidak ada satu sen pun uang nasabah yang hilang, baik akibat risiko digital maupun ulah oknum petugas.





