Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Di hari itu, demonstrasi di halaman Kantor Gubernur NTT berlangsung dengan wajah yang berbeda. Tidak ada cacian, tidak terdengar kata-kata kotor. Tak ada api yang membumbung, tak ada batu yang beterbangan.
Yang ada hanya suara-suara lantang mahasiswa yang menyalurkan kegelisahan dengan cara yang bermartabat.
Orasi berjalan bergantian, aparat berdiri siaga, dan pemimpin daerah hadir mendengar. Semua berada di ruang yang sama, namun tanpa saling meniadakan.
Demonstrasi yang kerap dicemaskan sebagai sumber kericuhan, di Kupang justru menjelma menjadi ruang kasih yang bertaut. Mahasiswa berbicara dengan idealisme, pemerintah mendengar dengan hati, aparat menjaga dengan kesabaran.
Hari itu, demokrasi di NTT memperlihatkan wajahnya yang paling indah: lantang tapi tidak melukai, keras tapi tetap penuh kasih.
NTT tetap setia dalam pelukan Ibu Pertiwi, meski keterbatasan masih membelenggu nusa yang kerap dijuluki “Nasib Tak Tentu.”
Namun tanah ini tidak pernah cengeng, tidak pula grasa-grusu. Ia berdiri tegar, sederhana, dan apa adanya. Dalam segala kekurangan, NTT justru selalu menghadirkan kelimpahan: keramahan, persaudaraan, dan ketulusan.





