Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Namun kalimat itu lebih dari sekadar kata-kata; itu adalah pengakuan, bahwa demokrasi tumbuh dari keberanian anak muda yang mau bersuara.
Yang tak banyak diketahui orang, malam sebelum aksi itu, Melki sudah lebih dulu menggelar doa bersama Forkopimda. Malam hening, doa-doa lintas iman terucap, menembus langit Kupang.
Itu bukan sekadar ritual, tapi ikhtiar spiritual untuk menjaga NTT tetap damai—sebuah tanah yang sejak lama dikenal sebagai nusa penuh toleransi.
Kontras dengan Jakarta yang ricuh, di mana jalanan dipenuhi kobaran api dan fasilitas umum dilahap amarah, Kupang justru memperlihatkan wajah lain demokrasi: wajah yang teduh, penuh kesabaran, dan berbalut doa.
Aparat TNI-Polri berjaga tanpa menakut-nakuti, mahasiswa berorasi tanpa menyalakan api, dan seorang gubernur hadir sebagai pendengar.
Hari itu, panas siang yang terik justru melahirkan kesejukan. Demokrasi tidak berakhir di jalan, tetapi menemukan ruangnya di halaman Kantor Gubernur.
Dan di tengah panas, di tengah doa, seorang Melki Lakalena menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak melulu tentang keputusan besar. Kadang, kepemimpinan lahir dari hal sederhana: telinga yang mau mendengar.





