Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Dari tanah yang gersang ini, lahir manusia-manusia yang tidak pernah surut menjaga persaudaraan, yang menjadikan kemanusiaan sebagai modal utama merawat nusantara.
Ketegangan seperti tinggal menunggu percikan kecil untuk meledak. Namun, dari pintu utama kantor gubernur, seorang pria berjas sederhana keluar.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, melangkah perlahan. Tanpa payung, tanpa podium, tanpa jarak. Ia berdiri di hadapan mahasiswa, menatap mereka satu per satu.
Sorot matanya tidak menantang, tapi menenangkan. Gerak tangannya sederhana, hanya mengisyaratkan bahwa ia datang untuk mendengar. Tidak ada pengeras suara yang ia gunakan.
Hanya suara manusia yang ia bawa. Suara yang pernah ia gunakan ketika masih menjadi aktivis, orator muda. Melki adalah Sekretaris Jenderal PMKRI Pusat di jamannya.
Melki tahu persis bagaimana rasanya berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang berteriak menuntut keadilan. Ia pernah berada di sana. Dan di hari itu, ia tidak lupa asal-usulnya.
“Mahasiswa tidak boleh dimatikan suaranya. Mereka bagian dari kita yang ingin NTT lebih baik,” katanya singkat.
