Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Ketika Saigon runtuh ke tangan komunis, para tentaranya diburu.
Sebagian dijebloskan ke kamp reedukasi.
Sebagian lainnya dibiarkan membusuk perlahan dalam kemiskinan struktural.
Tidak banyak kekuatan dunia yang berani menyuarakan hak-hak mereka.
Arus narasi global telah bergeser.
Dunia bergerak menuju rekonsiliasi ekonomi dan politik pascaperang.
Manusia-manusia yang kalah perlahan disisihkan dari ingatan.
Fenomena yang nyaris serupa tanpa sadar menimpa para pejuang Seroja kita.
Pembatasan masa bakti status veteran hingga 1976 seolah menjadi strategi retorika halus bagi otoritas negara untuk meredam sensitivitas psikologis dan diplomatik dengan negara tetangga yang baru lahir demi investasi masa depan.
Jika pembatasan itu benar-benar hanya soal administrasi, maka pertanyaan kita menjadi sederhana.
Mengapa waktu harus menjadi batas bagi sebuah pengorbanan?
Mengapa seseorang yang bertugas setelah 1976 harus kehilangan makna pengabdiannya hanya karena kalender menunjukkan angka yang berbeda?
Bukankah darah tetap darah?
