Darah Rakyat Timor di Meja Hijau, Suatu Perjuangan Yang Sia-sia

| Editor: redaksi
IMG-20260811-WA0004_copy_270x230

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

Ada serpihan peluru yang masih bersarang di tulang paha.

Ada pula pikiran yang sering terganggu oleh bayangan masa lalu.

Mereka berjalan pincang menjadi asing di tengah gerak cepat generasi muda yang tumbuh tanpa pengalaman tentang perang yang pernah mereka jalani.

Generasi hari ini dibesarkan oleh gawai dan kenyamanan kota.

Bagi sebagian mereka, lepasnya Timor Timur mungkin hanya sebuah babak sejarah usang yang sudah selesai di atas meja diplomasi.

Sebuah perkara yang selesai bersama keputusan politik.

Namun di balik selesainya babak politik itu ada manusia.

Ada ribuan kepala keluarga yang pulang tanpa kaki.

Ada ribuan janda yang membesarkan anak-anak yatim dalam jerat kemiskinan ekstrem.

Ada ribuan veteran renta yang terpaksa menyembunyikan tangisnya di balik pintu kamar setiap kali lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di televisi.

Di situlah luka sejarah menjadi lebih dalam.
Sebab luka perang tidak selalu berakhir ketika peluru berhenti.

Ada luka yang justru mulai bekerja setelah perang selesai.