Wamendiktisaintek Kritik Perguruan Tinggi yang Belum Berkontribusi pada Pengentasan Kemiskinan

Reporter: win 
| Editor: redaksi
KUNJUNGAN-WAMEN-44-of-62-1536x1024_copy_384x256_copy_345x230

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

Untuk mendukung itu, Fauzan akan mengkapitalisasi anggaran riset LPPM di tiap kampus, melalui skema co-funding bersama LPDP.

“Kemiskinan di NTT ada dua wajah, kemiskinan struktural dan miskin mental, yang menjadi tanggung jawab moral dunia pendidikan,’ jelas Fauzan.

Bacaan Lainnya

Kritik serupa datang dari Deputi Kemenko PMK, Prof. Dr. Abdul Haris, yang menyoroti data penerima bansos di NTT yang belum akurat.

“Dari 475.900 penerima, masih banyak warga miskin dan anak putus sekolah yang belum terdata,” aku Abdul.

Sedangkan Plt. Sekda NTT, Yohanes Oktovianus, mencatat angka kemiskinan NTT masih 17,50 persen atau sekitar 1,03 juta jiwa.

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, menyatakan kesiapan menjadikan tagline “Kampus Berdampak”, sebagai kontrak sosial. Undana akan menyusun grand design riset pengentasan kemiskinan yang presisi.

Wamendiktisaintek menekankan, pola bansos karitatif selama ini, hanya seperti “obat penahan sakit”. Melalui konsorsium dan riset, kampus diharapkan memodernisasi pertanian dan nelayan, serta mencetak lulusan skilled labour, agar anak NTT tidak lagi terjebak jadi TKI unskilled.

Pos terkait