Tekan Stunting di TTS, Undana Luncurkan Inovasi HAGar’D Hemat Air

Reporter: win 
| Editor: redaksi
PHOTO-32-1024x576_copy_409x230

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

“Model ini mengubah pekarangan rumah tangga menjadi sumber pangan kaya gizi dan bernilai ekonomi,” jelas Prof. Intje.

Program dimulai dengan FGD bersama 5 OPD teknis Pemkab TTS, sosialisasi, pemetaan by name by address, hingga pendampingan logbook harian oleh kader dan mahasiswa. Warga dilatih merakit instalasi, menyemai benih, menebar bibit ikan lele dan nila, serta membuat pakan alternatif dari maggot BSF.

Bacaan Lainnya

Dr. Franchy Liufeto menambahkan, air kolam kaya nutrisi digunakan untuk menyiram kangkung, bayam, sawi, dan kailan.

Soleman Landi, S.T., M.T menjelaskan sistem vertikultur ini hemat air hingga 80%. Satu siklus 2–3 bulan menghasilkan 5–10 kg ikan dan sayur segar untuk cegah stunting.

Dari sisi ekonomi, Prof. Marthen Pellokila menyebut sistem ini bisa memotong belanja dapur 15–20 persen per bulan. Kelebihan panen dijual ke pasar atau Posyandu.

Untuk keberlanjutan, tim membentuk Bank Benih dan Bibit Mandiri, kaderisasi ‘Kader HAGar’D’, serta mendorong replikasi lewat Dana Desa. Dengan pendekatan ini, Undana dan Pemkab TTS optimis memutus mata rantai stunting di Molo Selatan. (*)

Pos terkait