Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Bagi Christian Widodo, Simfoni Persaudaraan bukan sekadar kompetisi, tetapi pelajaran hidup bersama dalam keberagaman.
“Paduan suara mengajarkan persatuan itu tidak harus menjadi sama. Tenor, bas, sopran, alto berbeda karakter, tapi ketika saling memberi ruang dan melengkapi, perbedaan justru melahirkan harmoni,” jelasnya.
Filosofi itu, jelas Christian Widodo relevan dengan Kota Kupang yang beragam suku, agama, dan budaya.
“Keberagaman tidak pernah menjadi penghalang. Keberagaman selalu menjadi kekuatan, menjadi jembatan. Ubi concordia, ibi victoria, di mana ada persatuan, di situ ada kemenangan,” tegas Christian Widodo.
Wakil Ketua Sinode GMIT Pdt. Saneb Blegur menyebut kegiatan ini kairos dan momentum bersejarah yang menjadi ruang koinonia, marturia, dan pembaruan liturgi.
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma berharap kegiatan tidak berhenti di Simfoni 1, tetapi berlanjut Simfoni 2 dan seterusnya, karena bernyanyi melatih daya ingat, konsentrasi, disiplin, dan karakter anak sejak dini.
Kegiatan 7–9 Oktober 2026 diikuti 23 kelompok paduan suara dari Kota Kupang dan berbagai klasis se-NTT. Dua hari pertama kompetisi, hari ketiga simposium.





