Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Produk yang sama, kalau dikemas bagus dan lolos standar seperti BPOM, harganya bisa berkali lipat. Itu yang harus kita kejar,” ujar Melki.
Melki juga menyoroti posisi strategis Kabupaten Belu, sebagai wilayah perbatasan dengan Timor Leste, yang memiliki arus perdagangan tinggi.
“Perbatasan ini transaksi hariannya besar sekali. Jangan sampai kita hanya jadi penonton, sementara barang dari luar yang menguasai pasar,” katanya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan persoalan serius terkait defisit perdagangan daerah. Menurutnya, sekitar Rp51 triliun uang masyarakat NTT, yang setiap tahun mengalir ke luar daerah, karena ketergantungan pada produk dari luar, mulai dari kebutuhan harian hingga komoditas sederhana.
“Pinang saja kita beli dari luar sampai ratusan miliar rupiah. Padahal kita bisa tanam sendiri. Ini yang harus kita ubah,” aku Melki.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa total anggaran pemerintah daerah (APBD provinsi dan kabupaten/kota) di NTT berkisar Rp30 triliun, yang sebagian besar terserap untuk belanja pegawai. Akibatnya, perputaran ekonomi riil di masyarakat sangat terbatas.





