Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Selama ini, masyarakat masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), yang memiliki biaya operasional tinggi serta emisi karbon yang besar.
Frans menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar persoalan teknis penyediaan infrastruktur.
“Kebijakan energi di wilayah kepulauan kecil memerlukan pendekatan khusus. Sistem smart hybrid menjadi jawaban atas tantangan geografis sekaligus upaya transisi menuju energi bersih yang berkelanjutan,” paparnya di hadapan dewan penguji.
Melalui metodologi mixed-methods sequential explanatory, Frans membedah pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Smart Hybrid Microgrid berkapasitas 450 kWp di Pulau Semau. Sistem yang beroperasi paralel dengan PLTD ini mampu memproduksi energi rata-rata 1.800 kWh per hari.
Inovasi tersebut terbukti memberikan dampak signifikan, di antaranya:
– Penghematan Bahan Bakar: Mampu menekan penggunaan solar hingga 540 liter per hari.
– Reduksi Emisi: Berkontribusi langsung pada penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sesuai komitmen pembangunan berkelanjutan.
– Kesejahteraan Ekonomi: Menjadi instrumen kebijakan untuk pemenuhan kebutuhan energi dasar yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
