Nyala Asa di Bumi Flores, Prolog: Saat Bumi Flores Menangis

Reporter: win 
| Editor: redaksi
IMG_3153_copy_1008x756_copy_403x302_copy_302x226

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

BarometerNTT,com, Kupang — Pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05:58 WITA. Azan subuh baru saja menggema di kampung-kampung Flores, menyatu dengan embun pagi yang menyejukkan. Di dapur-dapur rumah panggung, ibu-ibu mulai menanak nasi dan merebus air. Di pelabuhan-pelabuhan kecil, para nelayan bersiap mendorong perahu ketinting mereka ke laut lepas.

Dalam 20 detik yang terasa selamanya, semuanya berubah dalam sekejap mata.

Bacaan Lainnya

Tanah mengaum dahsyat. Air laut tiba-tiba surut seketika. Rumah-rumah kayu dan beton roboh bergemuruh, menyisakan kepulan debu dan puing-puing berserakan. Tangis masyarakat pecah dalam ratap kepedihan, kepanikan massal, dan duka yang bagai tanpa akhir.

Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 hingga 7,8 yang berpusat di lepas pantai Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur mengguncang pagi yang tadinya syahdu itu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di laut akibat aktivitas pergerakan Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust pada kedalaman yang sangat dangkal, yakni hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut. Kedalaman dangkal inilah yang menjadi faktor utama mengapa guncangan terasa sangat merusak dan mematikan hingga ke daratan.

Pos terkait