Nyala Asa di Bumi Flores, Prolog: Saat Bumi Flores Menangis

Reporter: win 
| Editor: redaksi
IMG_3153_copy_1008x756_copy_403x302_copy_302x226

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

Alas terpal tipis yang terasa dingin di kaki saya, sangat kontras dengan udara di luar yang panas menyengat siang itu.

Di bawah naungan terpal oranye terang yang membentang di tengah area pemukiman warga di Kangae, Kabupaten Sikka, aroma minyak angin dan debu jalanan berpadu dengan kehangatan obrolan yang menyentuh relung hati.

Bacaan Lainnya

Saya duduk bersila bersama Ibu Maria, seorang perempuan yang senyumnya tampak merekah saat kami pertama kali bertemu di posko. Senyumnya beberapa kali masih tampak hilang setiap kali angin berembus kencang. Dengan suara parau yang tertahan, ia berkisah tentang detik-detik mengerikan ketika tanah diguncang gempa dan suaminya tertimpa beton di teras saat berusaha melarikan diri.

“Yang paling penting anak anak saya selamat Bu, suami saya juga cuma luka ringan. Ada banyak tetangga yang luka luka karena kejatuhan dinding rumah atau genteng”, ucapnya lirih sambil sesekali memeluk erat anaknya yang berusia tujuh tahun. Di sampingnya, anak kecil itu tampak asyik membuka permen yang saya bawa dari Kupang, sepertinya jiwa anak anak memang lebih mudah teralihkan perhatiannya.

Pos terkait