Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Dalam sambutannya, Wali Kota menggunakan analogi kapal, untuk menggambarkan peran komunitas.
“Komunitas tidak diciptakan untuk sekadar “bersandar di dermaga”, melainkan untuk “berlayar” menghadapi berbagai tantangan sosial di tengah masyarakat,” tegas Christian Widodo.
Diakui Christian Widodo, KKBD bukan komunitas untuk gagah-gagahan atau sekadar berkumpul, tetapi telah menjadi kapal yang berlayar membelah lautan persoalan dan memberi solusi nyata.
Sementara Ketua KKBD Provinsi NTT, H. Arifin menegaskan, bahwa keberadaan warga Bima Dompu di Kota Kupang dan NTT, bukanlah hal baru.
“Kami telah hadir sejak masa penjajahan, dengan jejak sejarah yang masih dapat ditemukan hingga kini, termasuk makam tokoh Kerajaan Dompu di kawasan Batu Kadera,” jelas Arifin.
Lebih lanjut, Arifin mengatakan, bahwa warga Bima Dompu di Kota Kupang tersebar di berbagai profesi, mulai dari aparatur sipil negara, dosen, guru, pengusaha, nelayan, petani, anggota kepolisian, hingga tenaga kesehatan.
“Rumah Singgah KKBD Kota Kupang dibangun di atas tanah seluas 500 meter persegi, milik warga Bima Dompu yang dikelola oleh KKBD, sebagai wujud kepedulian bersama untuk menampung mahasiswa, calon anggota kepolisian, serta warga yang membutuhkan tempat tinggal sementara, tanpa membedakan latar belakang suku dan daerah,” paparnya.





