Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
BarometerNTT.com, Kupang — Buruh migran perempuan di NTT yang bermigrasi, dan menjadi korban TPPO, tidak hanya disebabkan oleh masalah kemiskinan, tetapi didorong juga oleh situasi lokal atau komunitas, yang berkaitan dengan objektifikasi dan penindasan seksualitas perempuan.
“Hal ini, berdasarkan temuan Solidaritas Perempuan Flobamoratas di lapangan,” ujar Pdt. Emi Sahertian saat audiens dengan
Gubernur NTT, Melki Laka Lena di VIP Pemda Bandara El Tari, Selasa (26/8/2025).
Emi Sahertian menjelaskan, situasi lokal yang dimaksud seperti stigma, diskriminasi, perkawinan anak, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan seksual.
“Akibatnya, banyak perempuan memilih keluar, karena tidak lagi merasa aman di kampung mereka sendiri,” tegas Emi Sahertian.
Dikatakannya, NTT merupakan provinsi dengan angka migrasi yang tinggi. Buruh Migran dari NTT terus meningkat, dengan rata-rata 2.000 – 4.000 Buruh Migran diberangkatkan ke luar negeri setiap tahun, baik secara prosedural maupun non prosedural.
