Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Pemerintah bukan lagi yang memerintah, tetapi yang melayani. Kalau ada keluhan, sampaikan. Lurah dan camat harus cepat tanggap,” tegasnya.
Mengakhiri sambutannya, Wali Kota Kupang mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dalam keberagaman. Ia menekankan bahwa harmoni dalam kehidupan bermasyarakat tercipta dari keseimbangan, bukan keseragaman.
“Kita berbeda-beda, tapi punya tujuan yang sama, yaitu membangun Kota Kupang menjadi lebih baik. Harmoni itu bukan sama, tapi seimbang,” pungkasnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Fatukoa, Daniel Boen Balan, dalam sekapur sirihnya menyampaikan bahwa keberadaan tugu batas tersebut bukan dimaksudkan sebagai pemisah antarwilayah, melainkan sebagai simbol pemersatu masyarakat di dua wilayah.
“Ini bukan sebuah pembatas untuk memisahkan kita warga Fatukoa dengan warga Desa Oelomin, melainkan sebuah penegasan simbolis untuk menyatukan,” ujarnya. (*/win)
