Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Selain dampak ekonomi, ia juga menyinggung aspek kualitas pangan. Marthen meragukan mutu ayam beku yang didatangkan dari luar daerah karena tidak diketahui secara pasti waktu pemotongan hingga distribusinya.
“Ini berpotensi merusak kandungan protein dan kadar gizi, yang diterima masyarakat, khususnya anak-anak sebagai penerima manfaat MBG,” nilai Madito.
Karena itu, Madito, menekankan pentingnya penyediaan bahan pangan segar, dari sumber lokal.
Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap MBG, Madito mulai mendorong pengembangan peternakan ayam potong, bersama kelompok masyarakat dan unsur gereja dengan skala awal 1.000 hingga 2.000 ekor.
Madito juga menyiapkan pendampingan teknis bagi para peternak agar usaha dapat berjalan optimal, termasuk menekan angka kematian ternak di bawah 10 persen.
“Ini usaha yang menjanjikan, tapi harus dikelola serius dan dengan pengetahuan yang cukup,” katanya.
Dikatakan Madito, tidak hanya peternakan, Kebun Masa Depan yang ia kelola juga telah menghasilkan berbagai komoditas seperti semangka, tomat, cabai, dan sayuran untuk mendukung kebutuhan pangan lokal. Marthen menegaskan, integrasi sektor pertanian dan peternakan menjadi kunci agar program MBG benar-benar memberikan manfaat luas bagi masyarakat.





