Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
“Pada tahun 1928, para pemuda berani melampaui perbedaan untuk membangun persatuan bangsa. Di lapangan futsal, anak-anak muda boleh berbeda tim, berbeda gereja, bahkan berbeda denominasi, tetapi mereka tetap bersaudara,” ujarnya.
Deasy menambahkan bahwa GAMKI ingin terus mendorong gereja menjadi ruang yang ramah bagi generasi muda, termasuk melalui kegiatan olahraga yang sehat, kreatif, dan membangun disiplin.
“Gereja tidak boleh kehilangan anak-anak mudanya hanya karena kita kekurangan ruang untuk mendengar, mendampingi, dan mengembangkan mereka,” tambahnya.
Deasy menambahkan gereja harus menjadi ruang ramah bagi generasi muda.
“Lapangan olahraga juga bisa menjadi ruang pendidikan karakter, tempat anak muda belajar kejujuran, kerja keras, solidaritas, dan penghargaan terhadap sesama,” tambahnya.
Selain futsal, panitia juga menggelar lomba tarian daerah Bosan Halan untuk pelestarian budaya lokal, memberi ruang bagi pelaku UMKM jemaat berjualan, serta seminar tentang hak waris anak perempuan.
