Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Lebih lanjut dikatakan, AJI menegaskan kebebasan pers, tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan jurnalis. Saat perusahaan media melemah, jurnalis jadi semakin rentan. Mereka dituntut hasilkan lebih banyak berita dalam waktu singkat, kejar trafik, ikuti algoritma, dan buat konten viral.
“Kondisi ini membuat independensi editorial mudah terdesak. Jurnalis dengan ekonomi tidak aman, lebih mudah ditekan. Yang tanpa kepastian kerja, sulit menolak intervensi. Media yang bergantung pada kepentingan politik dan bisnis,bjuga kehilangan jarak kritis,” tambah dia.
Karena itu, kata Nany Afrida,bperjuangan AJI hari ini mencakup dua hal, yakni mempertahankan kebebasan pers, dan memperjuangkan jurnalis yang layak hidup dari profesinya.
Pada perayaan HUT ke-32 AJI, yang mengambil tema Bartahan, Bersuara, Berkarya tersebut, juga dilaksanakan pemberian penghargaan dengan kategori Udin Award, Tasrif Award, SK Trimurti Award dan Ahmad Taufik Award. (win)
