Akademisi di NTT Sepakat Arah Kebijakan Energi Nasional Telah Selaras dengan Asta Cita Prabowo-Gibran

Reporter: win 
| Editor: redaksi

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com

+Gabung

Fredrik menjelaskan saat ini sejumlah fasilitas PLTU di Timor telah menjalankan program co-firing biomassa dengan menggunakan chip kayu dari tanaman lokal seperti lamtoro dan gamal. Keduanya memiliki nilai kalor mendekati batubara namun dengan emisi jauh lebih rendah. Selain itu, dengan suplai biomassa dari NTT yang mencapai 20 ton per hari.

Fredrik menyebut pemerintah daerah bisa mendapatkan pendapatan daerah tambahan melalui skema perdagangan karbon.

Bacaan Lainnya

“Dari substitusi batubara dengan biomassa saja, bisa Rp2,8 miliar per bulan dari carbon trade. Tinggal kita perkuat regulasi daerahnya,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, pakar ekonomi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Dr. Frits Fanggidae menegaskan bahwa EBT berperan penting menurunkan biaya produksi dan mendorong daya saing UMKM. Sebab, listrik yang dihasilkan dari EBT harganya lebih murah, sehingga dapat menjadi intensif bagi UMKM di daerah.

“EBT akan membuat biaya produksi turun. Kalau energi murah, efisiensi naik, kapasitas produksi tumbuh, dan daya saing meningkat,” ujarnya.

Pos terkait