Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp BarometerNTT.Com
+Gabung
Sementara itu, RD. Adrianus Dimu mengungkapkan syukur atas penyertaan Tuhan selama 25 tahun dengan semboyan, “Jiwaku Memuliakan Tuhan dan Hatiku Bergembira karena Allah, Juru Selamatku.”
Ia mengakui imamat adalah rahmat. Panggilannya tumbuh sejak kecil, terinspirasi misionaris yang hidup dan menderita bersama umat.
Dirinya pernah bertugas di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, Paroki Santo Yosef Naikoten, Santo Paulus Sikumana, Santa Maria Dolorosa Sikumana, sebelum di Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta.
Pastor Paroki Oeleta, RD. Bob Muda, menegaskan perayaan 25 tahun imamat bukan sekadar memperingati waktu, melainkan mensyukuri kesetiaan dan kasih yang dibagikan.
“Menjadi imam bukan hanya berdiri di depan altar, tetapi hadir di tengah umat. Bukan hanya mewartakan Injil lewat kata-kata indah, tetapi lewat ketulusan, kesabaran, dan perbuatan kasih,” ungkapnya.
“Dua puluh lima tahun bukanlah garis akhir, melainkan tanda Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang terus menyertai,” tuturnya. (*)





